Tuesday, October 13, 2009

ISLAM DAN PENTINGNYA KESEHATAN

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersih”.
Berangkat dari petikan satu ayat tersebut di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam mempunyai kesungguhan dalam masalah kesehatan. Kesungguhan ini tercermin dari kecintaan Allah kepada orang yang bertobat (al-tawwabin) dan orang yang bersih (mutathahhirin). Dari taubat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriyah menghasilkan kesehatan fisik. Dengan demikian, setidaknya, ada dua kesehatan yang ditekankan ajaran Islam, yaitu kesehatan mental dan kesehatan fisik. Kesehatan mental tercermin dalam kata al-tawwabin dan kesehatan fisik tercermin dalam kata al-mutathahhirin.
Dua kesehatan ini akan banyak ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits. Bahkan dalam beberapa ayat, ditemukan kesehatan fisik berpengaruh terhadap kesehatan mental. Ini membuktikan bahwa Islam mempunyai perhatian yang serius terhadap kesehatan. Kesehatan mental mempunyai posisi penting dalam pergaulan manusia. Dari kesehatan mental yang dimiliki setiap individu pada setiap manusia maka akan muncul masyarakat yang sehat. Dengan cara demikian, kenyamanan kehidupan akan bisa dinikmati secara bersama.
Perhatian tentang kesehatan fisik, misalnya dapat dijumpai pada firman Allah yang memerintah kepada Nabi:
     
“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (Q.S. Al Muddatstsir: 4-5)
Menariknya, dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi untuk membersihkan pakaian sekaligus bersamaan dengan perintah menyampaikan ajaran agama dan membesarkan nama-nama Allah. Dalam salah satu hadits, Nabi pernah bersabda:


“Sesungguhnya, badanmu mempunyai hak atas dirimu.” (HR. Al-Bukhari)
Pesan yang bersamaan seperti di atas, juga dijumpai pada ayat lain, misalnya, dalam surat Al-A’raf: 31:
         
“Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan, karena Allah tidak suka kepada orang-orang berlebihan.” (Q.S. Al-A’raf: 31)
Dalam ayat ini, Allah melarang makan dan minum secara berlebihan. Penekanan larangan secara berlebihan terhadap makanan dan minuman dalam mengkonsumsi, bukan saja membuat orang menjadi rakus, yang dalam tingkat tensi tertentu bisa membuat hubungan manusia di tengah masyarkat menjadi tidak harmonis bahkan muncul konflik-konflik horizontal, tetapi juga berdampak pada perut sebagai terminal pengolahan makanan yang mempunyai kapasitas yang terbatas, bahkan tidak jarang mendorong munculnya suatu penyakit.
Karena itu, Nabi Muhammad SAW jauh-jauh hari telah mewanti-wanti kepada umat Islam untuk memperhatikan betul tentang kapasitas perut manusia dalam menerima makanan. Dalam hal ini, Nabi memberikan petunjuk seperti disebutkan dalam sabdanya sebagai berikut:



“Jika tidak ada sesuatu yang dipenuhkan oleh putra-putri Adam lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi putra-putr Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus dipenuhkan, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga lainnya untuk minumnya, dan sepertiga lagi (sisanya) untuk penafasan. (H.R. Tirmidzi)
Para ulama berpendapat bahwa jenis makanan itu dapat mempengaruhi kesehatan mental manusia. Kesimpulan ini diambilkan dari kata rijzun yang dipergunakan beberapa ayat Al-Qur’an dalam menjelaskan perlunya memperhatikan makanan yang disertai penyebutan kata rijsun. Misalnya, ayat 145 surat An-An’am berikut ini:
      ••       
“Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Q.S. Al-An’am: 145)
Kata rijsun di sini lebih dimaknai pada kotor dalam pengertian budi pekerti, bukan kotor dalam pengertian fisik. Jadi, kata rijsun ini mempunyai dampak psikologis terhadap aktivitas manusia.
Karena itu, Allah menganjurkan untuk mencari makanan yang dihasilkan dengan cara yang halal dan baik: halalan thayyibah. Halal tidak hanya dilihat dari cara memperoleh, tetapi juga secara dzatnya makanan dan minuman itu tidak haram. Sedangkan thayyibah mengandung pengertian makanan makanan itu sehat dan bergizi bagi tubuh. Perintah mencari makanan seperti ini, dapat dilihat dalam Surat Al-Baqarah: 168 berikut ini:
 ••                
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 168)
Seperti disebutkan di atas, makanan yang rijsun itu mempunyai dampak psikologis. Dalam tingkat tertentu, kondisi psikologis ini bisa menjadi penyakit rohani. Kalau itu terjadi, bisa merusak dan menghalangi hubungan sesama manusia dan hubungan dengan Allah (ibadah). Jadi, Islam memperhatikan kesehatan fisik dan kesehatan mental. Kesehatan fisik berpengaruh terhadap kesehatan mental.

No comments:

Post a Comment